Senin, 28 November 2011

DEPRESIASI - METODE PENYUSUTAN GARIS LURUS



Dalam metode garis lurus lebih melihat aspek waktu daripada aspek kegunaan. Metode ini paling banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan karena paling mudah diaplikasikan dalam akuntansi. Dalam metode penyusutan garis lurus, beban penyusutan untuk tiap tahun nilainya sama besar dan tidak dipengaruhi dengan
hasil/output yang diproduksi. Perhitungan tarif penyusutan untuk metode garis lurus adalah sebagi berikut:

Harga Perolehan Nilai Sisa / Estimasi Umur Kegunaan = Tarif Penyusutan


Metode penyusutan ini mempunyai kelebihan dan kelemahan.

Kelebihan dari metode ini adalah:

· Mudah digunakan dalam praktek.
· Lebih mudah dalam menentukan tarif penyusutan.

Kelemahan dari metode penyusutan ini adalah:

· Beban pemeliharaan dan perbaikan dianggap sama setiap periode.
· Manfaat ekonomis aktiva setiap tahun sama.
· Beban penyusutan yang diakui tidak mencerminkan upaya yang digunakan dalam
menghasilkan pendapatan.
· Laba yang dihasilkan setiap tahun tidak menggambarkan tingkat pengembalian
yang sesungguhnya dari umur kegunaan aktiva (dalam matching principle, beban
penyusutan harus proporsional pada penghasilan yang dihasilkan).



METODE GARIS LURUS

                                      Biaya perolehan – nilai residu
Penyusutan / tahun =     ---------------------------------------
                                                Umur manfaat



Depresiasi suatu aktiva tetap dilihat dari anggapan bahwa lamanya suatu aktiva tetap dalam peranannya dalam usaha mendapatkan penghasilan, peranan aktiva tetap tersebut sama besarnya tanpa memandang lama atau barunya aktiva tetap tersebut. Nilai sisa atau nilai residu dapat diikutsertakan dalam perhitungan.


Pembelian melewati tanggal 15 bulan berjalan, depresiasi dihitung pada bulan berikutnya.

Rumus Depresiasi aktiva tetap metode Garis Lurus = (100%/umur ekonomis) x Nilai Perolehan

Ilustrasi : PEMBELIAN AWAL TAHUN


CV. Gapura Jaya membeli sejenis aktiva sejenis peralatan pada tanggal 3 Januari 2007 seharga Rp. 60.000.000,- dengan nilai sisa diperkirakan sebesar 20% dari harga perolehan. 

Depresiasi 2007 =
( 100% /4) x Rp.48.000.000 = Rp. 12.000.000,-

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2007 :

D : Beban Depresiasi-Peralatan= Rp.12.000.000,-
K : Akumulasi Depresiasi-Peralatan======Rp. 12.000.000

Depresiasi 2008 = 25% x Rp. 48.000.000

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2008 :

D : Beban Depresiasi-Peralatan=Rp. 12.000.000
K : Akumulasi Depresiasi-Peralatan======Rp. 12.000.000

Depresiasi 2009 = 25% x Rp.48.000.000

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2009 :.

D : Beban Depresiasi-Peralata=Rp.12.000.000
K : Akumulasi Depresiasi-Peralatan======Rp.12.000.000

Depresiasi 2010 = 25% x Rp.48.000.000

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2010 :

D : Beban Depresiasi-Peralatan=Rp.12.000.000
K : Akumulasi Depresiasi-Peralatan======Rp.12.000.000


Ilustrasi : PEMBELIAN TAHUN BERJALAN


UD. Halimun Pagi membeli mesin bubut pada tanggal 23 September 2006 seharga Rp. 48.000.000 umur 4 tahun.

Depresiasi 2006 = {(100%/4)x } x 3/12 x Rp.48.000.000 = Rp. 3.000.000

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2006 :

D : Beban Depresiasi-Mesin Bubut=Rp. 3.000.000,-
K : Akumulasi Depresiasi-Mesin Bubut=======Rp. 3.000.000,-

Depresiasi 2007 = 25% x Rp.48.000.000= Rp.12.000.000

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2007 :

D : Beban Depresiasi-Mesin Bubut=Rp. 12.000.000
K : Akumulasi Depresiasi-Mesin Bubut=======Rp. 12.000.000

Depresiasi 2008 = 25% x Rp.48.000.000= Rp.12.000.000

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2008 :

D : Beban Depresiasi-Mesin Bubut=Rp.12.000.000
K : Akumulasi Depresiasi-Mesin Bubut=======Rp.12.000.000

Depresiasi 2009= 25% x Rp.48.000.000 = Rp. 12.000.000

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2009 :
D : Beban Depresiasi-Mesin Bubut=Rp. 12.000.000
K : Akumulasi Depresiasi-Mesin Bubut=======Rp.12.000.000

Depresiasi 2010 = 25% x Rp.48.000.000 x 9/12 = Rp.9.000.000

Jurnal pada tanggal 30 September 2010 :
D : Beban Depresiasi-Mesin Bubut=Rp. 9.000.000
K : Akumulasi Depresiasi-Mesin Bubut======Rp.9.000.000

narasumber : HERE

Artikel Terkait

2   komentar

gan mau tanya soal di bawah ini. umpama soal di atas di ganti yang ini ?

UD. Halimun Pagi membeli mesin bubut pada tanggal 23 September 2006 seharga Rp. 48.000.000 umur 4 tahun. nilai sisa 3.000.000 ,esin ini di depresiasi dg menggunakan garis lurus ?
pertanyaanya
a. hitung nilai depresiasi akhir thun 2006.2007.2008
b.catat akuntansi dg metode cadangan dan akumulasi
Reply Delete
A) Rumus Depresiasi aktiva tetap metode Garis Lurus = (100%/umur ekonomis) x Nilai Perolehan, jadi kalau ada Nilai Residu akan Mengurangi Nilai Perolehan ( 48jt-3jt = 45jt ).
jangan lupa perhitungan nilai ekonomisnya. Selamat Mencoba. :)

B) Metode cadangan (allowance method) adalah metode penghapusan piutang ragu-ragu dengan memperkirakan kemungkinan jumlah piutang yang tidak tertagih di masa mendatang. Setelah perusahaan menaksir jumlah piutang yang tidak tertagih itu, maka jumlah itu akan diakui dan dicatat sebagai kerugian. Pembukuan dilakukan dengan mendebet akun piutang ragu-ragu (bad debt) dan mengkredit akun cadangan piutang ragu-ragu (allowance for bad debt).

Akumulasi penyusutan merupakan total dari penyusutan yang sudah dibebankan sepanjang umur aktiva tersebut. Cara perhitungannya tergantung pada metode penyusutan yang digunakan.
Reply Delete

Poskan Komentar

Cancel Reply
Jangan Lupa di Like Ya Sobat

×
W E L C O M E